Home

Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Amru, Nabi Muhammad bersabda “Ridho Allah dalam keridhoan orang tua dan murka Allah dalam kemarahan orang tua.”

Dalam kitab Tanqihul Qoul dijelaskan banyak sekali hadist-hadist mengenai keharusan berbakti kepada kedua orang tua. InsyaAllah satu hadist diatas cukup memberikan kesimpulan, bahwa hubungan erat antara orang tua dan Tuhan memang hal yang tak boleh kita sepelehkan.

Ada satu cerita dalam kitab tersebut. Tentang seorang sahabat di zaman Nabi SAW.

Laki-laki itu bernama Alqamah. Amal yaumiyahnya tidak diragukan lagi. Ia seorang yang giat beribadah, sholat selalu berjam’ah, puasa istiqomah, dan banyak bersedekah. InsyaAllah masuk surga.

Keluarganya pun, sakinah mawaddah dan rohmah. Hidup Alqamah bahagia. Bagaimana tidak, istrinya cantik dan sholikhah, anak-anaknya juga taat ibadah. Untuk menafkahi keluarga alhamdulillah cukup.

Hingga sampailah Alqamah di usia tuanya. Tinggal beberapa langkah, Alqamah akan bertemu Sang Pencipta. Perlahan-lahan ajal pun datang, Izroil tak segan masuk dalam rumahnya tanpa salam.

Beberapa hari sebelumnya, Alqamah jatuh sakit, semakin hari semakin parah. Dia seperti sedang bertatapan dengan ajal, tapi roh dalam tubuhnya tak juga meninggalkan. Alqamah tak bisa bicara, bahkan mengucapkan lafadz Allah pun tak dapat dilakukannya. (Na’udzubillah)

Istri Alqamah tak berhenti menangis melihat keadaan suaminya yang ‘sekarat’. Antara tetap hidup dan akan mati. Yang bisa ia lakukan hanya berdo’a, berdo’a dan berdo’a. “Ya Allah, jika Engkau ingin mengambil suami hamba, hamba ikhlas, hamba mohon mudahkanlah ajalnya.”

Mengutuslah istri Alqamah kepada seseorang agar menemui Nabi Muhammad untuk membantu proses kematian suaminya.

Sesampainya Nabi dan para sahabatnya di rumah Alqamah, beliau langsung mentalqini Alqamah dengan kalimat syahadat, namun ia tidak mampu mengucapkan.

Nabi mengulanginya sampai beberapa kali, dan tetap saja Alqamah tak dapat menggerakkan mulutnya.

Nabi membalikkan badan, dan beliau melihat seorang ibu yang dengan tenang menatap Alqamah.

“Wahai ibu, apakah Alqamah anakmu?”

“Iya Rosul.”

“Bagaimana keadaan Alqamah dulu?”

“Ya Rosulullah, ia berpuasa, mengeluarkan sedekah dan sholat. Ia melakukan semua kebaikan, tetapi aku marah padanya.”

“Apa kesalahan Alqamah?”

“Karena ia melebihkan istrinya daripada ibunya.”

Nabi Muhammad pun berkata kepada salah seorang sahabat, “Pergilah dan kumpulkan kayu supaya aku membakarnya dengan api.”

“Ya Rosulullah, jangan lakukan itu kepada anakku, dia buah hatiku” Ibu Alqamah pergi menghalangi sahabat yang sudah berada di depan pintu, sambil menangis. “Jangan, Ya Rosulullah.”

“Siksa Allah jauh lebih keras. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak ridho, kecuali dengan ridhomu. Dia tidak akan menerima sholat, puasa dan sedekah anakmu selama engkau marah kepadanya.”

“Ya Rosulullah, aku jadikan Allah dan engkau sebagai saksi bahwa aku telah memaafkannya.”

Kemudian Nabi Muhammad memghampiri Alqamah dan segera mentalqininya dengan kalimat syahadat. Alqamah perlahan-lahan mungucapkan “Asyhadu anla ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna muhammadar Rosulullah.”

Begitu besar pengaruh ridho seorang ibu kepada anaknya, pun sampai ajal itu tiba. Jangan sesekalinya membuat mereka marah, karena itu hal yang Allah tak pernah suka.

Allahumaghfirlahumaa, warkhamhumaa, kamaa robbayaani shoghiiroo.

Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s